Tour de Kulonprogo I: Agro Wisata Kusuma Wanadri

Tuesday, January 29, 2008

Agro Wisata Kusuma Wanadri terletak di Pantai Glagah, Kulonprogo. Kebun yang berada persis di pinggir pantai ini dikelola oleh Romo Dr. Paulus Tribarta Budiharjo M.Th. MM. Dan di areal yang tak kuketahui luasnya, ditanam buah naga, roselle, tanaman obat, dan beberapa jenis bunga dalam pot. Di areal ini juga terdapat beberapa jenis satwa (biawak, bekantan, kakak tua, dll) yang diletakkan dalam kandang, warung kecil, restorant, rumah yang sepertinya sebuah kantor, dan kolam renang.

Warung kecil yang ada disitu menjual beragam kebutuhan sehari-hari, seperti sabun mandi, shampoo dan obat-obatan ringan. Selain itu juga produk-produk agrowisata yang bisa dibeli untuk oleh-oleh; buah naga, sirup buah naga, teh roselle, sirup roselle, obat-obatan dari ramuan tradisional, dan es roselle. Kami sempat membeli dua gelas es roselle. Segelas plastik harganya cuma Rp 1000,- Seduhan kelopak bunga roselle yang telah diberi gula dan ditambah es batu. Rasanya segar dan enak. Aku pikir minuman ini cocok jika dibuat softdrink dengan penambahan soda, seperti layaknya coca cola, selain menyegarkan, roselle mempunyai berbagai manfaat penyembuhan.

Memasuki areal kebun, kami membayar retribusi sebesar Rp 1000,- per orang. Retribusi dibayarkan di warung kecil yang juga pintu masuk ke kebun. Kami berjalan begitu saja dan tak seorang pun staf agrowisata yang menemani kami. Hingga ketika hendak bertanya aku kembali ke warung tersebut menemui laki-laki yang duduk disana.
"Pak, buahnya boleh dipetik gak?"
"Itu udah ada tulisannya mbak, gak boleh memetik." Jawabnya sambil menunjukkan papan tulisan larangan.
"Oh, iya... ya sudah, maaf, saya tadi gak baca itu."

SAtu pertanyaan lain terlontar dariku, namun agaknya laki-laki yang ada di situ enggan menjawab pertanyaanku. Malah asyik bercakap dengan temannya. Akhirnya tanpa banyak bicara aku membalikkan badan dan kembali memasuki areal kebun. "Kasihan deh gue, pertanyaanku gak dijawab. Dicuekiii..."

Mengelilingi kebun obat, di tiap tanaman terdapat tulisan yang menerangkan nama dan kegunaannya. Moko menyahut, "Nah, ini kan udah ada tulisannya, jadi biar gak perlu tanya-tanya lagi." Hahaha... bener juga, tapi tetep ada yang gak bisa dijawab oleh tulisan di tiap tanaman. Banyak informasi lain yang bisa disampaikan jika ada guide di kebun tersebut.

Kami tak mampir ke restaurant. Review tentangnya di milis JS tidak terlalu menarik. Apalagi kami sudah merencanakan makan siang di Seafood Yu Sum, Pantai Congot, sebelah timur Pantai Glagah.

Tak banyak foto yang kubuat (dan akhirnya rada menyesal) di kebun tersebut. Tak ada foto kebun tanaman obat, tanaman hias, rumah kantor, restaurant, dan pantai. Siang itu rasa tubuhku agak lemes setelah perjalanan Solo - Sleman - Kulonprogo dalam cuaca yang panas. Sementara pagi hari aku hanya sarapan sepotong pudding dan secangkir kopi.

Waktu bergulir, dan kami melanjutkan perjalanan ke Congot, setelah ngadem diantara rerimbunan tanaman obat.


Read more...

Melirik Potensi Geowisata di Gunung Kidul

WONOSARI – Tiap musim kemarau tiba, Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) jadi langganan berita. Pelbagai media selalu menyoroti persoalan kekeringan yang melanda daerah tandus ini. Di balik cerita sedih itu, daerah seluas 148,506 ha–sekitar 46,62 persen dari luas seluruh DIY, ternyata menyimpan potensi pariwisata. Salah satunya, potensi geowisata di kawasan karst. Sayang, potensi ini belum digarap maksimal.


Bila Anda sempat jalan-jalan ke Gunung Kidul, pasti kesan yang pertama ditangkap adalah kering dan meranggas. Dengan matahari yang terasa dekat di kepala, tanah yang ada terlihat pecah-pecah. Lebih-lebih begitu melihat tumbuhan yang hidup—didominasi oleh pohon jati –-tak menampakkan lembaran daun di ujung batangnya.
”Ini memang ciri khas kawasan karst. Daerahnya kering dengan dominasi bukit-bukit kapur. Memang terasa panas waktu musim kering,” kata Hendy S. – geolog yang bekerja untuk Balai Konservasi Candi Borobudur. Obrolan pengisi waktu dalam perjalanan menuju Gua Lawa, Kecamatan Ponjong, Gunung Kidul tiba-tiba berkembang menjadi ide cerita yang menarik.
Ia lalu menunjuk pohon-pohon jati yang kelihatan tinggal batang kering itu. ”Pohon-pohon itu bukannya mati, tetapi itu usaha mereka untuk mengurangi penguapan air. Pohon jati salah satu pohon yang cocok hidup di kawasan seperti ini.”
Walau daerah ini terasa kering, Hendy percaya betul dengan potensi yang dimilikinya. Kawasan karst di Gunung Kidul bisa dikembangkan menjadi objek wisata. Tinggal sekarang, apakah para pihak (stakeholder) siap untuk memajukan semua itu. ”Peluangnya cukup bagus kok,” tegas pria ramah ini.

Belum Maksimal
Sunarto, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Gunung Kidul mengatakan bahwa kawasan karst yang membentang di wilayah Gunung Kidul merupakan potensi wisata yang belum tergarap maksimal. Sumber daya karst yang termasuk Pegunungan Sewu itu punya nilai estetika dan sifat multiaspek, semua cabang pengetahuan dapat diaplikasikan di sini.
Kalau dilihat lebih jauh, pemanfaatan gua sebagai aset geowisata adalah salah satu celah untuk mengembangkan potensi wisata Gunung Kidul. Lebih jauh, Sunarto menyebutkan bahwa daerah yang terkenal dengan gaplek itu masih menyimpan banyak objek dan daya tarik pariwisata. Jualannya bisa dari keindahan pantai, kawasan perbukitan, hutan dan pegunungan karst.
Dari sisi wisata budaya, Gunung Kidul juga bisa dikedepankan. Sebut saja gua-gua bersejarah yang menyimpan segudang peninggalan masa lampau sampai aneka kesenian tradisional khas lokal. ”Daerah ini juga punya aset kerajinan yang juga merupakan aset bagi pengembangan pariwisata,” tandas Sunarto dalam sarasehan ”Pengembangan Peranserta Masyarakat dalam Pelestarian dan Pemanfaatan Gua-gua Bersejarah di Gunung Kidul”, beberapa waktu lalu di Gunung Kidul.
Sunarto pun berharap Gunung Kidul mampu melakukan diversifikasi produk-produk wisata tersebut. Ini sudah lumrah, katanya, saat ini persaingan makin ketat di antara daerah-daerah tujuan wisata. Belum lagi harus bersaing secara regional, misalnya dengan negara-negara ASEAN.
Geowisata bisa dijadikan contoh diversifikasi produk wisata. Apalagi melihat potensi alam Gunung Kidul yang amat mendukung. Dari situ pula bisa dikembangkan wisata minat khusus dan wisata petualangan yang berorientasi pada keindahan alam.
Kata Sunarto, geowisata punya aspek positif dalam pemanfaatan dan pengelolaan kawasan karst Pegunungan Sewu. Salah satunya sebagai usaha perlindungan kawasan karst dari penurunan nilai-nilai ilmiah akibat pertambangan yang berlebihan. Di sisi lain, usaha menjual gua tadi mampu menambah pundi-pundi kas daerah dan masyarakat.

Gua Bersejarah
Tak beda dengan Sunarto, Hanang Samodra – peneliti dan pemerhati Lingkungan Karst dan Gua dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Bandung – setuju dengan pemanfaatan karst Gunung Kidul sebagai objek wisata. Terlebih lagi gua-gua yang ada di perut daerah ini mengandung nilai budaya yang tinggi.
Sekadar mengingatkan, di kawasan karst Pegunungan Seribu terdapat sejumlah gua yang masuk kategori gua bersejarah. Gua alami ini terbukti pernah menjadi pusat kegiatan di masa lalu. Peninggalan masa lalu tadi yang selalu dicari para peneliti. Sebab dari sini bisa disibak keberadaan manusia prasejarah yang pernah tinggal di suatu wilayah, perkembangan budayanya dan proses interaksinya dengan lingkungan alam di sekitarnya. Dengan batasan tersebut, gua-gua tadi juga dikelompokkan sebagai gua arkeologi. ”Gua di kawasan karst Gunung Sewu yang termasuk gua arkeologi adalah Gua Braholo, Song Gupuh, Song Keplek dan Gua Tabuhan,” sebut Hanang.
Sebagai suatu objek wisata yang bersifat ilmiah populer, lanjut Hanang, tentu saja gua arkeologi itu tetap punya nilai jual. Pasarnya bisa dibagi jadi dua, wisatawan umum dan wisatawan minat khusus. ”Ini tergantung dengan materi yang ingin disampaikan,” ujar Ketua Komisi Kars Ikatan Ahli Geologi Indonesia.
Penyampai materi adalah pemandu wisata. Sang pemandu bisa berlatar belakang ilmiah ataupun masyarakat lokal yang sudah mengikuti pelatihan secara khusus. Hanya saja yang perlu diingat, informasi teknis ilmiah harus bisa diterjemahkan dan disampaikan lewat bahasa yang sederhana – tanpa harus mengurangi makna yang sebenarnya. Kalau terlalu njlimet takutnya para wisatawan malah tak tertarik lantaran mereka tak punya bekal pengetahuan arkeologi.
Tantangan Pemanfataan
Walau dipandang punya potensi, Hanang mengingatkan bahwa ada sejumlah tantangan yang harus dihadapi. Malahan tantangan sudah akan muncul sejak tahap perencanaan. Pengembangan gua menjadi suatu objek wisata yang punya pesona dan daya tarik tinggi bukanlah pekerjaan yang sederhana. ”Tanpa ada strategi yang matang hanya akan memperburuk dan menurunkan kualitas nilai strategis gua.”
Supaya lebih gampang gambaran berikut patut direnungkan. ”Gua memiliki iklim-mikro yang khas, yang sangat berbeda dengan lingkungan di luarnya. Setiap segmen gua punya derajat keterangan, suhu dan kelembaban sendiri-sendiri,” jelas Hanang, pria kelahiran Yogyakarta, 2 Juli 1956. Iklim mikro gua tak hanya penting bagi kehidupan biota di dalamnya, tetapi juga mengawetkan lukisan yang tergambar dan tercorat-coret di dinding gua.
Memasuki gua yang penuh lukisan tanpa pemandu dikhawatirkan akan mengganggu proses identifikasi ilmiah yang mungkin belum selesai dilakukan. Benda-benda arkeologi lainnya seperti artefak, sisa makanan berupa serpihan tulang atau tumpukan cangkang kerang, gerabah, manik-manik dan kerangka boleh jadi masih terlindungi dengan baik dari pengaruh kunjungan. Sebab benda-benda tadi berada di dalam lapisan sedimen di dasar gua. Meski begitu, sebelum nilai ilmiahnya teridentifikasi secara lengkap, kunjungan ke gua arkeologi tadi tetap akan berpengaruh pada kegiatan tersebut.
Gangguan bukan cuma dari manusia, alam pun sering merusak sendiri – dalam usahanya menuju ke kesetimbangan dinamis. Pelepasan akumulasi energi pada lapisan kulit bumi secara tiba-tiba dalam bentuk gempa bumi adalah salah satu contoh proses alam menuju ke arah kesetimbangan baru. Gempa yang kuat tentu saja akan merusakkan dinding gua.
”Dari kenyataan tadi, di dalam kegiatan pengembangan gua wisata sering muncul pemahaman yang bersifat skeptis, yang kemudian berkembang menjadi suatu kontroversi. Dibiarkan saja atau dikelola, gua tetap akan rusak,” sergah Hanang. Permasalahan ini akan tetap jadi persoalaan selamanya, yaitu ketika orang tak mau berusaha mencari kata kunci yang dapat mengeluarkannya dari belenggu permasalahan tersebut. (SH/bayu dwi mardana u/ Sinar Harapan)
Read more...

Sendang Sono, Litle Lourdes in Indonesia

Monday, January 28, 2008

You will reach Sendang Sono after passing through bending street at the foot of Menoreh hill. There are two alternatives in order to reach the place from Yogyakarta, namely via Jalan Godean to arrive at Sentolo before turning right, or via Jalan Magelang to come to T-junction of the market in Muntilan city before turning left. The distance is around 45 kilometers from Yogyarta, or it will take you one hour to get to the place by motorcycle.

An entrance with stone wall on both sides will lead you to the vast pilgrimage complex where you will find small chapels, the path of Jesus Sacrification, the Cave of Maria, shelters, and kiosks selling praying goods. Cool weather will greet you upon entering the complex thanks to many growing trees there.

Sendang Sono was named by its location. Sendang means water spring and Sono means the sono or sonokeling tree, denoting that the spring is located under the sono tree. If you will see the spring and the sono tree, please turn right upon entering the gate. Unfortunately, you will not be able to see the spring clearly because it is closed with glass box.

Before 1904, this spring was wellknown as Sendang Semagung, which functioned as the resting place of the bhikku who left for Boro area, the area to the south of Sendang Sono. Since 20 May 1904, however, by the arrival of Father Van Lith and baptism of 173 people of Kalibawang by using the spring water, this place changed its function to the pilgrimage place for Catholic people.

Entering the main chapel in this pilgrimage complex, you can commemorate the baptism event happening 102 years ago, since there is relief describing the baptism procession. Entering the Mother Mary chapel and the Desciples Chapel, you will remember the struggle of Mother Mary and the twelve disciples with Jesus Christ.

If you are interested in remembering the struggle of one of the Catholic community activists, you can pay a visit to the tomb close to Mother Mary chapel. There, you will find the tomb of Mr. Barnabas Sarikromo, a good friend of Father Van Lith who also one of the people baptized in 1904 and was determined to be the first teacher of Catholic religion in the area.

Sarikromo who was born on 1874 was a person full of blessing because his persistent effort to be close to God. When he was young, he suffered from skin disease that was difficult to cure. In his prayer and promise to serve his life to God if he was cured, he met Father Van Lith who brought him to a brother for medication.

The short-distance path of Jesus Sacrification can be an alternative celebration to commemorate Jesus' misery to shoulder the Cross. At every stop of the sacrification path, you can light a candle and say your prayer while remembering important events of Jesus' to Golgotha hill, such as the events of his three falling while shouldering the wooden cross, when Veronica wiped His face with her handkerchief and the last minutes of the death of Jesus Christ.

Praying in front of the Cave of Mary that is located close to the sono tree is another way of seeking tranquility. Many people say their prayer by kneeling down and lighting candles in front of this cave. You can even write your hopes or wishes on a piece of paper and then put it into a firing pot in order for God to receive it. For your information, the statue in this complex was directly shipped from Spain.

In addition to pacifying yourself and praying, you can also enjoy the enchantment of the complex architecture designed by Father Y.B Mangunwijaya Pr and it won AGA Khan Awards. You can also sit relax in the shelter while enjoying the surrounding buildings dominated by stone as the material, or stand on the small bridge to enjoy the beauty of the flowing river underneath.

When you are going to leave, do not forget to take some spring water flowing from the taps at the side of the river. The water is believed to give blessings to anyone who drink it or use it for many other purposes. It will complete your contemplation and wishes that you say in your prayer. (source YogYES.com)

Read more...

Add to My Yahoo! Add to Google Add to My AOL Add this Content to Your Site

  © Blogger template On The Road by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP